Thursday, 27 August 2009
MEMASUKI BUMI DAN PENDARATAN PESAWAT ULANG-ALIK
Setelah pesawat ulang-alik menyelesaikan misinya di luar angkasa, maka pesawat akan kembali ke bumi dengan terlebih dahulu memasuki atmosfer bumi. Saat memulai proses memasuki bumi, orbiter menggunakan roket-roket pendorong untuk memutar pesawat sehingga pesawat jatuh ke bumi dengan posisi ekor berada dibagian depan. Roket pendorong juga digunakan untuk memperlambat jatuhnya orbiter ke bumi dan untuk keluar dari garis orbitnya. Kemudian dengan perlahan pesawat menukik ke bawah.
Orbiter memasuki lapisan tertipis atmosfer pada ketinggian 140 kilometer di atas permukaan bumi dengan posisi hidung pesawat berada di bagian depan lagi. Pada ketinggian 130 kilometer di atas permukaan bumi, udara mulai tebal dan gesekan orbiter dengan udara mulai terjadi. Suhu orbiter naik, namun orbiter telah dirancang untuk menghadapi gesekan dan suhu yang hebat. Dinding pesawat orbiter dilapisi dengan ubin untuk menahan panas yang luar biasa. Selama memasuki bumi, bagian terpanas dari orbiter dapat mencapai suhu 1.500oC akibat bergesekan dengan udara.
Memasuki ketinggian 70 kilometer di atas permukaan bumi, badan pesawat begitu panas sehingga gelombang radio tidak dapat menembus masuk ke orbiter, sehingga komunikasi dengan stasiun di bumi menjadi terputus selama 12 menit. Setelah berada pada ketinggian 55 kilometer, orbiter melaju dengan kecepatan 13.300 km/jam dan komunikasi pun tersambung kembali.
Saat memasuki atmosfer, halangan oleh udara menghambat laju orbiter. Pesawat harus mampu mendekati landasan pada kesempatan pertama, karena pesawat dalam keadaan tanpa bahan bakar sehingga tidak bisa berputar untuk mencoba lagi, namun pendaratan orbiter ini juga dibimbing dari stasiun bumi.
Orbiter turun melalui jalur penerbangan yang disebut dengan lereng layang. Pesawat penumpang umumnya memasuki lereng layang ini dengan sudut 2 sampai 3 derajat, namun orbiter memasukinya dengan meluncur kebawah pada sudut 22 derajat sehingga menjadi sangat curam. Sudut ini kemudian dikurangi menjadi 1,5 derajat pada ketinggian 500 meter di atas permukaan bumi dan 3 kilometer dari landasan. Pesawat kemudian mendarat di landasan dengan kecepatan 350 km/jam dengan bagian ekor terlebih dahulu kemudian hidung diturun perlahan-lahan. Landasan untuk pesawat orbiter dibangun khusus dengan panjang 4,5 kilometer.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment